Ilmu ekonomi menghadapi tantangan yang tidak pernah sesederhana yang dibayangkan oleh model-modelnya yang paling elegan. Di balik kurva permintaan dan penawaran, di balik persamaan-persamaan diferensial yang memproyeksikan pertumbuhan, di balik matriks korelasi yang menjelaskan hubungan antar variabel, terdapat jutaan manusia nyata yang membuat keputusan dalam kondisi yang sangat kompleks, yang dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang mendalam, oleh trauma historis yang belum selesai, oleh jaringan sosial yang tidak terlihat di permukaan statistik, dan oleh aspirasi yang tidak selalu dapat dinyatakan dalam satuan moneter. Memahami ekonomi secara sungguh-sungguh berarti bersedia untuk menyelami kompleksitas ini, bukan sekadar mengukurnya dari jarak yang aman.
Buku ini lahir dari keyakinan bahwa penelitian mixed methods, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan kekuatan analisis kuantitatif dengan kedalaman pemahaman kualitatif, bukan sekadar pilihan metodologis alternatif. Ia adalah respons intelektual yang paling jujur terhadap kompleksitas fenomena ekonomi yang sesungguhnya, khususnya dalam konteks Indonesia yang sangat kaya dan sangat beragam. Ketika seorang peneliti bertanya mengapa program pengentasan kemiskinan di satu kabupaten berhasil sementara program yang sama gagal di kabupaten tetangga, jawaban yang paling berguna tidak akan ditemukan hanya dalam regresi statistik, betapapun canggihnya spesifikasi model. Jawaban itu juga membutuhkan pemahaman tentang dinamika kepemimpinan lokal, tentang kepercayaan komunitas yang terbentuk atau terkikis selama generasi, tentang cara petani menginterpretasikan "bantuan" dari pemerintah melalui lensa pengalaman historis mereka. Itulah ruang di mana mixed methods bekerja paling kuat.
Perjalanan metodologis yang disajikan dalam buku ini dimulai dari fondasi filosofis yang mungkin tampak abstrak namun sangat menentukan arah praktis penelitian. Pertanyaan tentang apa yang dapat kita ketahui tentang realitas ekonomi, dan bagaimana cara terbaik untuk mengetahuinya, bukan sekadar perdebatan akademis yang steril. Pilihan antara memandang realitas sebagai sesuatu yang objektif dan dapat diukur versus memandangnya sebagai konstruksi sosial yang harus dipahami dari dalam, sangat menentukan instrumen apa yang peneliti gunakan, komunitas apa yang ia libatkan, dan pertanyaan apa yang berani ia ajukan. Mixed methods mengambil posisi yang pragmatis namun bukan tanpa prinsip: ia mengakui bahwa berbagai jenis pertanyaan memerlukan berbagai jenis jawaban, dan bahwa kebenaran tentang fenomena ekonomi yang paling penting sering kali hanya dapat diraih melalui lebih dari satu cara mengetahui.
Setelah membangun fondasi filosofis ini, buku menguraikan secara sangat rinci berbagai tipologi desain penelitian mixed methods yang paling banyak digunakan, dari desain konvergen yang mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan, hingga desain sekuensial yang menggunakan satu komponen untuk menginformasikan komponen berikutnya. Setiap desain disertai dengan contoh-contoh konkret dari penelitian ekonomi Indonesia, dari evaluasi program kesehatan JKN, dari penelitian inklusi keuangan digital di kalangan UMKM perempuan, dari studi tentang ketahanan pangan petani padi gogo di NTT, hingga analisis daya saing daerah dan dinamika klaster industri. Contoh-contoh ini bukan sekadar ilustrasi teknis; mereka adalah demonstrasi bahwa mixed methods bukan konsep asing yang diimpor begitu saja dari tradisi metodologi Barat, melainkan pendekatan yang sangat relevan dan sangat dapat dioperasionalkan dalam konteks penelitian ekonomi Indonesia yang spesifik.
Buku ini juga memberikan perhatian yang sangat serius pada dimensi-dimensi yang sering diabaikan dalam panduan metodologi konvensional: etika penelitian yang melampaui sekadar prosedur formal, kualitas dan validitas yang dipahami secara komprehensif mencakup kedua jenis komponen penelitian, penulisan yang komunikatif untuk audiens yang beragam, dan manajemen proyek penelitian yang realistis. Penelitian yang secara metodologis brillian namun yang dilaksanakan tanpa perencanaan yang matang, tanpa tim yang terkoordinasi dengan baik, atau tanpa strategi diseminasi yang efektif, akan gagal memberikan dampak yang seharusnya. Penelitian yang menghasilkan pemahaman yang sangat kaya namun yang disimpan dalam laporan yang tidak terbaca oleh para pembuat kebijakan yang paling membutuhkannya adalah investasi yang tidak terbayar.
Indonesia, dengan keragaman geografis, budaya, dan ekonominya yang luar biasa, menawarkan konteks penelitian yang sangat kaya bagi pendekatan mixed methods. Dari pertanyaan tentang bagaimana kebijakan desentralisasi fiskal bekerja secara berbeda di ratusan kabupaten yang berbeda kondisinya, hingga pertanyaan tentang bagaimana pengetahuan lokal nelayan di Maluku dapat diintegrasikan dengan analisis ekologis formal untuk menghasilkan kebijakan perikanan yang lebih efektif, hingga pertanyaan tentang bagaimana platform digital mengubah struktur pasar tenaga kerja informal di kota-kota besar, semua pertanyaan ini memerlukan integrasi antara data yang dapat diukur dan pemahaman yang hanya dapat diperoleh melalui dialog yang mendalam dengan mereka yang mengalaminya secara langsung.