Buku yang ada di hadapan pembaca ini lahir dari sebuah keprihatinan yang mendalam sekaligus harapan yang sangat besar. Keprihatinan, karena menyaksikan betapa ajaran infak yang begitu agung dan begitu kaya kandungannya masih dipahami oleh sebagian besar umat Islam secara sangat parsial dan sangat terbatas — seolah-olah infak hanyalah soal memasukkan uang ke dalam kotak amal di masjid atau memberikan sedikit uang kepada pengemis di pinggir jalan. Harapan, karena meyakini dengan sepenuh hati bahwa jika umat Islam benar-benar memahami dan mengamalkan ajaran infak secara komprehensif dan optimal, maka potensi transformasi sosial, ekonomi, dan spiritual yang dapat dihasilkan sangatlah luar biasa — melampaui apa yang dapat dibayangkan oleh sistem kesejahteraan sosial manapun yang diciptakan oleh manusia.
Infak dalam Islam bukan sekadar aktivitas sosial atau program filantropi yang bersifat opsional. Ia adalah manifestasi paling nyata dari keimanan yang sejati, ekspresi paling konkret dari tauhid yang dipahami secara benar, dan jembatan yang menghubungkan antara hubungan seorang hamba dengan Tuhannya dan hubungannya dengan sesama manusia. Al-Qur’an menyebut kata infak dan berbagai derivasinya lebih dari sembilan puluh kali, menjadikannya salah satu tema yang paling dominan dalam kitab suci umat Islam — sebuah indikasi yang sangat jelas tentang betapa fundamentalnya kedudukan infak dalam sistem ajaran Islam secara keseluruhan.
Kajian dalam buku ini dirancang untuk menyajikan pemahaman yang benar-benar komprehensif tentang infak dari berbagai dimensi yang saling melengkapi. Dimensi teologis dan akidah mengajak pembaca memahami bahwa infak adalah konsekuensi logis dari keyakinan bahwa semua harta pada hakikatnya adalah milik Allah, dan manusia hanyalah pemegang amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas pengelolaannya. Dimensi hukum fikih memaparkan berbagai ketentuan yang sangat rinci dan sangat kaya dari berbagai mazhab tentang rukun, syarat, macam-macam, dan berbagai hukum yang berkaitan dengan infak dalam berbagai kondisi. Dimensi spiritual dan etika menelusuri bagaimana infak yang ikhlas mampu menyucikan jiwa, membebaskan hati dari belenggu cinta harta yang memperbudak, dan mengangkat derajat spiritual seseorang ke tingkatan yang lebih tinggi.
Dimensi sosial dan ekonomi mengungkap betapa brilian dan betapa canggihnya sistem distribusi yang dirancang Islam melalui berbagai instrumen infak untuk memastikan kekayaan tidak menumpuk hanya pada segelintir pihak, membangun solidaritas sosial yang kuat, dan menciptakan masyarakat yang lebih adil dan lebih bermartabat. Dimensi historis membawa pembaca menjelajahi bagaimana para sahabat agung seperti Abu Bakar, Khadijah, Utsman, dan Abd al-Rahman ibn Awf menjadikan kedermawanan sebagai identitas utama mereka, serta bagaimana sistem infak Islam membangun peradaban-peradaban besar yang meninggalkan warisan yang masih kita rasakan manfaatnya hingga hari ini.
Dimensi kontemporer menghadirkan berbagai isu dan tantangan terkini seputar infak — dari infak digital dan crowdfunding syariah, infak dalam bentuk aset kripto, wakaf produktif, hingga green infak untuk lingkungan — yang memerlukan ijtihad yang kreatif namun tetap berpijak pada prinsip-prinsip fundamental syariat yang tidak dapat diganggu gugat. Sementara dimensi ilmiah menyajikan berbagai temuan terkini dari psikologi, neurosains, dan ekonomi perilaku yang secara sangat mengagumkan mengkonfirmasi apa yang telah diajarkan Al-Qur’an dan hadis sejak empat belas abad yang lalu: bahwa berinfak adalah salah satu sumber kebahagiaan yang paling nyata dan paling berkelanjutan, bahwa kedermawanan memiliki manfaat kesehatan yang terukur secara empiris, dan bahwa fitrah manusia memang mencenderungkan kepada kebaikan dan kepedulian terhadap sesama.
Buku ini ditulis dengan keyakinan yang sangat kuat bahwa persoalan infak adalah persoalan yang terlalu penting untuk dibiarkan hanya menjadi pembahasan akademis yang tersimpan di rak-rak perpustakaan. Ia harus menjadi pengetahuan yang hidup, yang menggerakkan hati dan mengubah perilaku, yang menginspirasi setiap pembacanya untuk berinfak dengan lebih baik, lebih konsisten, dan lebih ikhlas dalam kehidupan sehari-harinya. Karena sesungguhnya, seperti yang diajarkan oleh sebuah hikmah yang sangat indah dalam tradisi Islam: apa yang kita infakkan itulah yang sesungguhnya kita miliki untuk selamanya, sementara apa yang kita simpan dan kikiri pada akhirnya akan hilang dari genggaman kita ketika kita meninggalkan dunia ini.
Buku ini diperuntukkan bagi semua kalangan: bagi masyarakat Muslim awam yang ingin memahami ajaran agamanya dengan lebih baik, bagi para dai dan pendidik yang memerlukan referensi yang komprehensif untuk materi dakwah dan pengajaran mereka, bagi para akademisi dan peneliti yang berminat dalam bidang ekonomi Islam dan filantropi, bagi para pengelola lembaga ZISWAF yang ingin memperkuat landasan syariah dari kegiatan yang mereka geluti, serta bagi para pembuat kebijakan yang ingin memahami potensi luar biasa dari sistem infak Islam sebagai instrumen pembangunan sosial-ekonomi nasional.